![]() |
| Gambar :Kenapa Mobil Listrik Sebaiknya Dicharge Saat Baterai Masih di Atas 25%? |
Banyak pemilik mobil listrik masih punya kebiasaan seperti mobil bensin: dipakai sampai hampir habis dulu baru isi ulang. Padahal untuk kendaraan listrik, cara seperti itu justru kurang ideal, apalagi kalau sering dilakukan. Baterai mobil listrik bekerja paling optimal saat level dayanya tidak terlalu rendah dan tidak terlalu penuh. Karena itu, banyak pengguna EV berpengalaman menyarankan untuk mulai charging ketika baterai masih berada di kisaran 20–30 persen. Selain lebih aman untuk kesehatan baterai, proses pengisian juga biasanya terasa lebih cepat dan stabil.
Kenapa Charging di Atas 25% Terasa Lebih Cepat?
Saat baterai masih berada di level menengah, sistem mobil biasanya masih mengizinkan daya masuk lebih besar. Itulah kenapa ketika datang ke SPKLU dengan baterai sekitar 30% misalnya, mobil bisa langsung menerima charging speed tinggi. Berbeda jika baterai sudah terlalu rendah, apalagi sampai 1% atau bahkan 0%. Sistem manajemen baterai akan bekerja lebih hati-hati untuk menjaga suhu dan kestabilan sel baterai. Akibatnya, proses charging awal bisa terasa lebih lambat dibanding kondisi normal. Selain itu, baterai yang terlalu kosong biasanya juga mengalami suhu lebih tinggi atau lebih tidak stabil setelah perjalanan jauh. Ini membuat sistem pendinginan bekerja lebih keras sebelum charging bisa maksimal.
Jangan Biasakan Tunggu Sampai 1%
Memang mobil listrik modern punya proteksi otomatis agar baterai tidak benar-benar habis total. Tapi terlalu sering membiarkan baterai turun sampai 1% tetap tidak disarankan. Ada beberapa risiko yang cukup sering terjadi:
- Charging jadi lebih lama dari biasanya
- Performa baterai lebih cepat menurun dalam jangka panjang
- Mobil masuk mode penghemat daya
- Risiko stranded atau kehabisan baterai di jalan lebih besar
- Sistem pendingin baterai bekerja lebih berat
Kalau hanya sesekali mungkin tidak masalah. Tapi kalau dijadikan kebiasaan harian, efeknya bisa terasa setelah pemakaian beberapa tahun.
Idealnya Charge di Berapa Persen?
Untuk penggunaan harian, banyak pengguna EV memilih mulai charging saat baterai berada di sekitar:
- 20%
- 25%
- 30%
Sedangkan pengisian penuh 100% biasanya hanya dilakukan saat akan perjalanan jauh. Untuk pemakaian normal di dalam kota, menjaga baterai di kisaran 20% sampai 80% dianggap paling aman dan efisien.
Fast Charging Juga Lebih Optimal
Hal ini paling terasa saat menggunakan DC Fast Charging di SPKLU. Ketika baterai datang masih di atas 20%, mobil biasanya langsung mendapat kecepatan charging tinggi.
Contohnya:
- Datang dengan 35% → charging bisa langsung kencang
- Datang dengan 5% → kadang sistem butuh penyesuaian suhu dan voltase lebih dulu
Makanya banyak pengguna EV senior memilih isi sebentar tapi lebih sering dibanding tunggu baterai kritis.
Anggap Saja Seperti Smartphone
Sebenarnya konsepnya mirip seperti baterai smartphone modern. Semakin sering dipaksa sampai hampir habis total, biasanya kesehatan baterai juga lebih cepat turun. Mobil listrik memang dirancang canggih, tapi menjaga pola charging tetap penting supaya baterai lebih awet dan performa tetap enak dipakai bertahun-tahun.
Baca Juga :
Berapa Persen Baterai Ideal Saat Mobil Listrik Disimpan? Jangan Sampai Salah
Kalau ingin charging lebih cepat, baterai lebih awet, dan perjalanan lebih nyaman, jangan biasakan menunggu baterai mobil listrik sampai 1%. Mulai isi daya saat baterai masih di atas 25% jauh lebih ideal untuk penggunaan harian. Selain membuat proses charging lebih optimal, cara ini juga membantu menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang. Banyak pengguna mobil listrik yang sudah lama memakai EV bahkan menganggap aturan sederhana ini sebagai salah satu kebiasaan paling penting dalam merawat kendaraan listrik.
