EVCar.id Banner

Keseringan Charge Mobil Listrik Saat Baterai Sudah Low Batt, Apa Dampaknya?


EVCar.id – Kebiasaan menunggu baterai mobil listrik sampai benar-benar hampir habis sebelum melakukan pengisian daya masih cukup sering dilakukan oleh sebagian pemilik kendaraan listrik. Alasannya beragam, mulai dari ingin memaksimalkan penggunaan baterai, tidak sempat mampir ke SPKLU, sampai anggapan bahwa mengisi daya ketika baterai sudah low batt merupakan cara yang lebih efisien.

Padahal, mobil listrik modern sudah menggunakan sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang dirancang untuk menjaga baterai tetap berada dalam kondisi aman. Meski begitu, kebiasaan terlalu sering membiarkan kapasitas baterai turun sangat rendah sebelum melakukan charging bukanlah pola penggunaan yang ideal jika dilakukan terus-menerus.

Menariknya, masalahnya bukan sekadar soal angka persentase baterai. Cara pemilik mobil memperlakukan baterai dalam jangka panjang juga dapat berpengaruh terhadap suhu baterai, pola pengisian, efisiensi penggunaan energi, hingga proses penuaan sel baterai.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi jika mobil listrik terlalu sering digunakan sampai baterai berada di level sangat rendah sebelum dicas? Apakah baterai langsung rusak? Atau justru mobil listrik memang dirancang untuk digunakan sampai low batt?

Low Batt pada Mobil Listrik Bukan Berarti Baterai Benar-Benar Kosong

Sebelum membahas dampaknya, ada satu hal penting yang perlu dipahami. Ketika indikator baterai mobil listrik menunjukkan angka 0 persen, bukan berarti sel baterai benar-benar tidak memiliki energi sama sekali.

Produsen mobil listrik umumnya memberikan batas pengaman pada sistem baterai. BMS akan mengatur agar baterai tidak digunakan sampai melewati batas tegangan yang dapat membahayakan sel.

Karena itu, angka 0 persen pada panel instrumen lebih tepat dipahami sebagai kondisi ketika energi yang dapat digunakan oleh kendaraan sudah berada pada batas minimum yang ditentukan sistem.

Begitu pula dengan angka 100 persen. Baterai tidak selalu berada pada kondisi kimia yang benar-benar terisi hingga batas absolut maksimum. Sistem kendaraan biasanya memiliki pengaturan tersendiri untuk menjaga baterai tetap berada dalam rentang kerja yang aman.

Namun, meskipun sudah dilengkapi sistem proteksi, bukan berarti pemilik mobil bebas membiarkan baterai berada di level sangat rendah setiap hari.

Apakah Sering Charge Saat Low Batt Bisa Merusak Baterai?

Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Melakukan pengisian ketika baterai berada di level rendah pada dasarnya bukan tindakan yang langsung merusak baterai.

Mobil listrik memang dirancang untuk digunakan dan kemudian diisi kembali. Pengisian dari kondisi baterai rendah juga merupakan bagian normal dari siklus penggunaan kendaraan.

Yang menjadi perhatian adalah ketika baterai sangat sering dibiarkan berada pada kondisi sangat rendah dalam waktu lama, terutama jika mobil kemudian tidak segera diisi daya.

Baterai lithium-ion pada mobil listrik mengalami proses penuaan secara alami. Seiring waktu dan penggunaan, kemampuan baterai dalam menyimpan energi akan berkurang. Pola penggunaan, suhu, kecepatan charging, serta seberapa sering baterai berada pada kondisi ekstrem dapat memengaruhi proses tersebut.

Karena itu, masalah utamanya bukan satu kali melakukan charging dari kondisi low batt. Yang perlu diperhatikan adalah pola penggunaan dalam jangka panjang.

Semakin Sering Baterai Masuk Kondisi Sangat Rendah, Semakin Banyak Siklus yang Terpakai

Salah satu istilah penting dalam pembahasan baterai mobil listrik adalah cycle atau siklus pengisian.

Satu siklus tidak selalu berarti sekali mencolokkan kabel charger. Dalam konsep baterai, satu siklus umumnya berkaitan dengan penggunaan energi yang secara kumulatif setara dengan 100 persen kapasitas baterai.

Contohnya, jika hari ini baterai digunakan dari 80 persen menjadi 30 persen, kemudian diisi kembali. Penggunaan energi tersebut setara dengan sekitar 50 persen dari satu siklus. Jika kemudian digunakan lagi sebesar 50 persen, total penggunaannya menjadi sekitar satu siklus.

Artinya, penggunaan dari baterai penuh hingga sangat rendah bukan satu-satunya faktor yang menentukan umur baterai. Yang lebih penting adalah total energi yang digunakan, pola pengisian, suhu, serta kondisi baterai selama penggunaannya.

Karena itu, pemilik mobil listrik tidak perlu terlalu takut melakukan charging setiap kali baterai turun. Justru, pengisian sebagian secara rutin dapat menjadi kebiasaan yang lebih praktis dibandingkan selalu menunggu baterai berada di level sangat rendah.

Depth of Discharge Juga Berpengaruh

Dalam dunia kendaraan listrik terdapat istilah Depth of Discharge atau DoD. Secara sederhana, DoD menggambarkan seberapa banyak kapasitas baterai yang digunakan dalam satu periode.

Misalnya, penggunaan baterai dari 90 persen ke 40 persen berarti DoD sekitar 50 persen. Sementara penggunaan dari 90 persen hingga 10 persen berarti DoD sekitar 80 persen.

Secara umum, penggunaan baterai dengan DoD yang lebih dalam secara terus-menerus dapat memberikan beban lebih besar dibandingkan penggunaan dalam rentang yang lebih moderat.

Ini bukan berarti pemilik mobil listrik tidak boleh menggunakan baterai sampai 10 persen. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut tentu bisa terjadi. Misalnya ketika perjalanan jauh dan lokasi SPKLU berikutnya cukup jauh.

Yang sebaiknya dihindari adalah menjadikan kondisi baterai sangat rendah sebagai kebiasaan setiap hari tanpa alasan yang diperlukan.

Risiko Terbesar Justru Ketika Mobil Dibiarkan Low Batt Terlalu Lama

Hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah ketika mobil listrik sudah berada pada level baterai rendah kemudian dibiarkan dalam kondisi tersebut selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Baterai akan mengalami penurunan tegangan secara perlahan ketika kendaraan tidak digunakan. Sistem kendaraan memang dirancang untuk menjaga baterai tetap aman, tetapi kondisi baterai yang sangat rendah dalam waktu lama tetap bukan situasi yang ideal.

Dalam kondisi tertentu, jika kapasitas baterai turun terlalu jauh, sistem perlindungan dapat membatasi penggunaan kendaraan atau charging untuk menjaga baterai dari kondisi yang berpotensi merusak.

Itulah sebabnya pemilik mobil listrik sebaiknya tidak menunda pengisian terlalu lama setelah indikator baterai menunjukkan level rendah, terutama jika mobil akan kembali diparkir dalam waktu lama.

Low Batt dan Fast Charging, Apakah Berbahaya?

Mobil listrik yang baterainya rendah memang sering menjadi sasaran fast charging karena pemilik ingin segera mendapatkan energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Secara umum, menggunakan DC fast charging pada mobil yang kompatibel bukanlah sesuatu yang secara otomatis berbahaya. Sistem BMS dan perangkat charging akan berkomunikasi untuk menentukan besarnya daya yang dapat diterima baterai.

Namun, ada faktor yang perlu diperhatikan, yaitu suhu baterai.

Ketika baterai berada dalam kondisi tertentu, sistem kendaraan dapat mengatur atau mengurangi kecepatan pengisian. Pada beberapa kendaraan, sistem manajemen termal akan melakukan pendinginan atau pemanasan baterai agar kondisi sel berada pada temperatur yang sesuai.

Karena itu, kecepatan charging tidak selalu sama dari awal hingga akhir. Biasanya, daya pengisian akan mengalami perubahan seiring meningkatnya persentase baterai.

Mengapa Charging Biasanya Melambat Saat Baterai Mulai Penuh?

Pemilik mobil listrik mungkin pernah melihat kondisi ketika pengisian awal berlangsung sangat cepat, tetapi mendekati kapasitas tinggi daya charging mulai turun.

Hal tersebut merupakan bagian dari strategi perlindungan baterai.

Ketika kapasitas baterai masih rendah, kendaraan dapat menerima daya lebih tinggi sesuai kemampuan sistem. Namun, ketika persentase baterai semakin tinggi, sistem secara bertahap mengurangi daya untuk mengontrol tegangan, temperatur, dan kondisi sel.

Karena alasan tersebut, waktu pengisian dari 10 persen ke 80 persen biasanya tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan pengisian dari 80 persen ke 100 persen.

Untuk penggunaan harian, pemilik mobil listrik juga tidak selalu membutuhkan baterai sampai 100 persen. Jika kebutuhan perjalanan tidak jauh, charging sebagian sudah cukup untuk menjaga kendaraan siap digunakan.

Jadi, Berapa Persen Sebaiknya Mulai Charge?

Tidak ada satu angka yang berlaku mutlak untuk seluruh mobil listrik. Setiap model memiliki karakteristik baterai, sistem BMS, serta rekomendasi penggunaan yang berbeda.

Namun, untuk penggunaan sehari-hari, pemilik dapat menjadikan kisaran baterai menengah sebagai kebiasaan charging, daripada selalu menunggu indikator mendekati nol persen.

Misalnya, ketika baterai sudah berada di sekitar 20–30 persen dan kendaraan akan digunakan kembali, pemilik dapat mempertimbangkan untuk melakukan pengisian.

Angka tersebut bukan aturan wajib. Jika sedang melakukan perjalanan jauh, baterai tentu dapat digunakan lebih rendah selama lokasi pengisian berikutnya sudah diperhitungkan.

Yang paling penting adalah jangan sampai keputusan menunda charging justru membuat kendaraan kehabisan daya di jalan.

Tidak Perlu Selalu Charge Sampai 100 Persen

Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah selalu mengisi baterai sampai 100 persen meskipun kendaraan sebenarnya hanya digunakan untuk perjalanan pendek.

Untuk penggunaan harian, batas pengisian yang lebih rendah dapat menjadi pilihan jika memang sesuai dengan rekomendasi produsen kendaraan.

Sementara itu, pengisian hingga 100 persen tetap berguna ketika mobil akan digunakan untuk perjalanan jauh dan membutuhkan jarak tempuh maksimum.

Jadi, pemilik mobil listrik dapat menyesuaikan target charging dengan kebutuhan. Untuk perjalanan sehari-hari, tidak harus selalu penuh. Untuk perjalanan jauh, kapasitas lebih tinggi tentu memberikan fleksibilitas lebih besar.

Perbedaan Baterai LFP dan NMC Perlu Dipahami

Karakteristik baterai mobil listrik juga dipengaruhi oleh jenis kimia baterai yang digunakan.

Dua jenis yang cukup umum ditemukan pada kendaraan listrik adalah Lithium Iron Phosphate atau LFP dan Nickel Manganese Cobalt atau NMC.

Keduanya memiliki karakteristik berbeda dalam hal kepadatan energi, karakter pengisian, temperatur kerja, dan strategi pemeliharaan.

Beberapa produsen kendaraan listrik menggunakan baterai LFP dan dapat memberikan rekomendasi pengisian hingga 100 persen secara berkala untuk membantu sistem memperkirakan kapasitas baterai. Sementara itu, strategi penggunaan baterai NMC dapat berbeda tergantung desain kendaraan dan rekomendasi pabrikan.

Karena itu, pemilik sebaiknya tidak hanya mengikuti tips dari media sosial atau pengguna kendaraan lain. Buku manual dan rekomendasi resmi produsen tetap menjadi acuan utama.

Jangan Panik Saat Indikator Sudah Masuk Zona Merah

Jika suatu saat baterai mobil listrik turun ke level sangat rendah, pemilik tidak perlu langsung panik. Selama sistem kendaraan masih beroperasi normal, langkah paling penting adalah mencari sumber pengisian yang aman.

Untuk membantu perjalanan tetap lancar, pemilik juga bisa memanfaatkan layanan pencarian lokasi SPKLU terdekat sebelum kapasitas baterai terlalu rendah.

Perhatikan jarak menuju rumah atau SPKLU berikutnya. Gunakan mode berkendara yang sesuai jika kendaraan menyediakan pilihan untuk meningkatkan efisiensi energi.

Hindari akselerasi agresif dan penggunaan fitur yang tidak diperlukan ketika jarak tempuh tersisa sangat sedikit.

Dalam situasi darurat, strategi berkendara menjadi lebih penting dibandingkan sekadar mengejar angka persentase baterai.

Memaksimalkan Jarak Tempuh Bukan Hanya Soal Mode Eco

Ketika baterai sudah berada di level rendah, efisiensi berkendara menjadi semakin penting. Banyak pengemudi langsung memilih mode Eco, tetapi sebenarnya ada sejumlah faktor lain yang ikut menentukan konsumsi energi.

Kecepatan kendaraan, gaya akselerasi, kondisi lalu lintas, tekanan ban, penggunaan AC, beban kendaraan, hingga kondisi jalan dapat memengaruhi jarak tempuh.

Karena itu, memahami cara memaksimalkan jarak tempuh mobil listrik juga penting bagi pemilik kendaraan listrik, terutama ketika melakukan perjalanan dengan kondisi baterai terbatas.

Dengan gaya berkendara yang lebih halus dan perencanaan perjalanan yang baik, energi baterai dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.

Jangan Abaikan Peringatan BMS

Mobil listrik modern memiliki berbagai sistem pengawasan baterai. BMS memantau sejumlah parameter penting, termasuk tegangan, temperatur, arus, dan kondisi pengisian.

Jika kendaraan memberikan peringatan terkait baterai atau sistem charging, pemilik sebaiknya tidak mengabaikannya.

Indikator seperti battery system warning, gangguan charging, temperatur baterai yang tidak normal, atau penurunan performa yang tiba-tiba perlu diperiksa lebih lanjut.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa masalah tersebut hanya terjadi karena mobil sering digunakan sampai low batt. Pemeriksaan teknisi diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Bagaimana Kebiasaan Charging yang Lebih Baik?

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan pemilik mobil listrik untuk membantu menjaga baterai dalam penggunaan sehari-hari.

Pertama, jangan menjadikan baterai mendekati nol persen sebagai target penggunaan harian. Jika memungkinkan, lakukan charging sebelum baterai masuk ke level yang sangat rendah.

Kedua, sesuaikan tingkat pengisian dengan kebutuhan perjalanan. Tidak semua perjalanan membutuhkan baterai 100 persen.

Ketiga, gunakan AC charging di rumah untuk kebutuhan rutin jika tersedia dan sesuai dengan rekomendasi kendaraan. DC fast charging dapat dimanfaatkan ketika memang membutuhkan pengisian lebih cepat.

Keempat, perhatikan temperatur kendaraan dan baterai. Sistem manajemen termal memang bekerja otomatis, tetapi kebiasaan parkir dan penggunaan kendaraan tetap dapat memengaruhi kondisi termal baterai.

Kelima, jika mobil akan ditinggalkan dalam waktu lama, hindari menyimpannya dalam kondisi baterai sangat rendah. Ikuti rekomendasi produsen mengenai persentase baterai yang ideal untuk penyimpanan.

Apakah Sering Charge Justru Lebih Baik?

Pertanyaan ini cukup sering muncul. Banyak pemilik kendaraan konvensional terbiasa menunggu bahan bakar hampir habis sebelum mengisi kembali. Pola tersebut kemudian dibawa ke kendaraan listrik.

Padahal, kendaraan listrik memiliki karakter penggunaan yang berbeda.

Melakukan pengisian secara berkala dengan jumlah energi yang tidak terlalu besar bukan berarti lebih buruk bagi baterai. Dalam banyak situasi, kebiasaan tersebut justru lebih praktis karena baterai tidak perlu berulang kali digunakan hingga level sangat rendah.

Contohnya, jika kendaraan digunakan setiap hari dan kapasitas baterai turun dari 70 persen menjadi 40 persen, pemilik dapat mengisi kembali di rumah. Tidak perlu menunggu sampai 10 persen jika kebutuhan perjalanan esok hari sudah diketahui.

Dengan pola tersebut, kendaraan selalu memiliki cadangan energi yang cukup dan risiko kehabisan daya di perjalanan juga lebih kecil.

Jangan Terlalu Terobsesi dengan Persentase Baterai

Merawat mobil listrik memang membutuhkan pemahaman mengenai baterai. Namun, pemilik juga tidak perlu terlalu khawatir dengan setiap perubahan persentase.

Baterai adalah komponen yang memang dirancang untuk digunakan. Penurunan kapasitas secara perlahan merupakan bagian dari proses penuaan baterai.

Yang perlu dihindari adalah pola ekstrem yang dilakukan terus-menerus, seperti selalu menggunakan kendaraan sampai benar-benar kehabisan daya, membiarkan mobil dalam kondisi sangat rendah dalam waktu lama, atau mengabaikan peringatan sistem baterai.

Dengan kebiasaan charging yang masuk akal dan mengikuti panduan produsen, baterai dapat digunakan secara optimal tanpa harus membuat pemilik terus-menerus memikirkan angka persentase.

Kesimpulan: Low Batt Sesekali Bukan Masalah, Tapi Jangan Dijadikan Kebiasaan

Keseringan menggunakan mobil listrik hingga baterai berada di kondisi sangat rendah sebelum melakukan charging bukan berarti baterai akan langsung rusak. Sistem BMS pada kendaraan modern sudah dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap baterai.

Namun, menjadikan baterai low batt sebagai pola penggunaan sehari-hari bukan kebiasaan yang ideal. Penggunaan baterai dalam kondisi sangat rendah secara berulang, ditambah membiarkannya dalam kondisi tersebut terlalu lama, dapat menjadi salah satu faktor yang kurang baik bagi pengelolaan umur baterai dalam jangka panjang.

Untuk penggunaan harian, pemilik dapat mempertimbangkan melakukan charging sebelum kapasitas terlalu rendah dan menyesuaikan target pengisian dengan kebutuhan perjalanan.

Jika mobil digunakan untuk perjalanan jauh, pengisian hingga kapasitas lebih tinggi tentu diperlukan. Sebaliknya, untuk perjalanan pendek, tidak perlu memaksakan baterai selalu penuh.

Intinya, baterai mobil listrik tidak harus selalu diperlakukan seperti tangki bensin yang baru diisi ketika hampir kosong. Dengan memahami karakter baterai, memanfaatkan sistem BMS, memperhatikan suhu, serta mengikuti rekomendasi pabrikan, pemilik dapat menggunakan mobil listrik dengan lebih nyaman sekaligus menjaga baterai tetap dalam kondisi optimal.

Bagi sobat EVCar.id yang baru beralih ke mobil listrik, kebiasaan charging yang baik sebenarnya tidak sulit. Tidak perlu menunggu indikator masuk zona merah. Selama ada kesempatan charging dan kebutuhan perjalanan sudah diperhitungkan, mengisi daya lebih awal justru dapat membuat penggunaan mobil listrik menjadi lebih tenang dan praktis.

Jadi, low batt sesekali bukan masalah. Yang perlu dihindari adalah menjadikannya kebiasaan.

FAQ Seputar Charging Mobil Listrik Saat Low Batt

Apakah baterai mobil listrik boleh dicas saat 10 persen?

Boleh. Melakukan charging ketika kapasitas baterai berada di sekitar 10 persen bukan berarti langsung merusak baterai. Namun, sebaiknya jangan menjadikan kondisi tersebut sebagai pola penggunaan setiap hari.

Apakah mobil listrik harus selalu dicas sampai 100 persen?

Tidak selalu. Untuk penggunaan harian, target pengisian dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan rekomendasi produsen. Pengisian hingga 100 persen lebih berguna ketika kendaraan membutuhkan jarak tempuh maksimal.

Apakah sering menggunakan fast charging membuat baterai cepat rusak?

Fast charging merupakan fitur yang memang dirancang untuk kendaraan listrik yang mendukungnya. Namun, temperatur baterai, frekuensi penggunaan, kondisi baterai, dan strategi pengisian dapat memengaruhi proses penuaan baterai. Ikuti rekomendasi produsen kendaraan.

Apakah baterai 0 persen benar-benar kosong?

Tidak selalu. Angka 0 persen pada indikator kendaraan umumnya merupakan batas penggunaan yang ditentukan sistem. BMS memiliki mekanisme perlindungan agar sel baterai tidak digunakan melewati batas operasional yang ditetapkan.

Berapa persen baterai sebaiknya mulai dicas?

Tidak ada angka universal untuk semua mobil listrik. Untuk penggunaan harian, melakukan charging sebelum baterai masuk kondisi sangat rendah dapat menjadi kebiasaan yang lebih praktis. Selalu prioritaskan rekomendasi yang tercantum dalam buku manual kendaraan.

Lebih baru Lebih lama

advertise

Banner

advertise

Banner

نموذج الاتصال

WhatsApp